Stevens Johnson Syndrome : Kulit Melepuh Terbakar Akibat Minum Obat

Kemarin secara tak sengaja melihat berita di salah satu stasiun TV Indonesia tentang kasus seseorang yang melepuh kulitnya seperti terbakar setelah memakai obat-obatan yang diresepkan dokter di salah satu rumah sakit di Jawa Timur. Sungguh mengenaskan sekali kondisi orang tersebut, benar-benar seperti orang yang mengalami luka bakar parah di sekujur tubuh. Hal ini mengingatkanku lagi dengan kasus-kasus sebelumnya yang pernah mengemuka di berita baik media cetak maupun elektronik.

sumber : eyeworld.org

sumber : eyeworld.org

Yang menarik adalah judul berita yang diberikan oleh stasiun TV pada kasus ini. Judul beritanya kira-kira begini “Kulit Melepuh/Terbakar Akibat Salah Resep Obat”. Bagi saya judul berita tersebut adalah salah, karena setahu saya kasus yang seperti ini dokter sudah memberikan obat dengan prosedur yang benar, sesuai dengan gejala dan keluhan pasien. Menurut pengetahuan saya juga, kasus seperti ini adalah kasus-kasus yang tak begitu sering dijumpai, dimana terdapat beberapa orang yang tubuhnya bereaksi negatif terhadap jenis obat tertentu. Dan memang kenyataannya pada penjelasan berita tersebut, tidak ada indikasi malpraktek disana, hanya saja berita tersebut memberi judul yang agak berlebihan.

Saya lupa dengan istilah medis dari gejala dan kasus tersebut, maka saya pun pulang dan akhirnya menemukan lagi istilah kedokteran nya setelah berselancar di dunia maya, yakni Stevens-Johnson Syndrome. Saya ingin tahu siapa saja yang berisiko terkena kasus ini, dan apa penyebab, beserta langkah pencegahannya.

stevens 

Hasil penyelidikan singkat saya akhirnya menyimpulkan bahwa penyakit ini memang agak jarang terjadi, tapi tak boleh disepelekan, dengan rasio berkisar 2 sampai 6 orang penderita dari 1 juta orang di dunia per tahunnya. Jika penduduk Indonesia 250 juta maka artinya peluang kemungkinan jumlah penderita ini di Indonesia 500 sampai 1500 orang tiap tahun. Dan kasus ini memiliki berbagai penyebab, baik karena infeksi bakteri dan virus, sistem imunitas tubuh yang lemah, ataupun penyebab lain seperti radiasi, makanan, dsb. Akan tetapi penyebab utama yang sering ditemui adalah akibat sensitivitas tubuh yang berlebihan pada obat-obat yang dikonsumsi, sebagaimana kasus di Jawa Timur ini. Dan terdapat indikasi bahwa faktor genetik turut berperan pada penyakit Stevens Johnson ini.

Ada beberapa jenis obat yang sering dikaitkan dengan Stevens-Johnson Syndrome, baik dari jenis antibiotik, penghilang rasa sakit dan demam, anti-radang, dsb. Menarik untuk mengamati dari berbagai daftar obat tersebut sebagiannya sangat familiar denganku dan sering juga kuminum atau diresepkan dokter, termasuk barangkali pada orang lain. Sementara itu, masih sulit saat ini mendeteksi bahwa seseorang memiliki peluang terkena penyakit ini.

Gejala awal bagi penderita biasanya terkait dengan gejala flu biasa seperti batuk, demam, sakit kepala, sakit tenggorokan, dsb. Kemudian berhari-hari kemudian penderita bisa mengalami kemerahan pada kulit yang lama-lama menyebar, disertai dengan bintil-bintil, luka, dan pada akhirnya pengelupasan kulit. Memang yang paling diserang oleh penyakit ini adalah organ kulit dan membran tubuh. Dalam kasus parah dan penanganan yang terlambat, beberapa organ penting tubuh lainnya seperti mata, kerongkongan, saluran pencernaan, saluran kelamin, dsb ikut terserang karena organ-organ ini dilapisi oleh membran. Penderita pun bisa mengalami kematian tergantung pada tingkat keparahan dan cepat atau lambatnya ditangani oleh medis.

Pasien penderita Stevens Johnson Syndrome ini harus segera mengalami perawatan, dimasukkan ke ruangan ICU (Intensive Care Unit), dan dilakukan perawatan sebagaimana menghadapi pasien luka bakar. Pasien harus segera dijauhkan dari penyebab penyakitnya, jika bersumber dari obat tertentu maka obat tersebut harus dihentikan pemakaiannya. Obat penghilang rasa sakit dan gatal diberikan, begitu juga penjagaan terhadap cairan tubuh dan elektrolit. Jika mengalami gangguan infeksi sekunder, sebagaimana memang tubuh yang luka akan rentan dimasuki bibit penyakit, maka penanganan terhadap infeksi sekunder pun diberikan diantaranya dengan antibiotik yang sesuai. Begitu juga nutrisi pasien pun diperhatikan. Setelah beberapa minggu atau beberapa bulan, gejala akan bisa berkurang dan kondisi pasien akan membaik sendiri, walau mungkin dengan beberapa bekas luka penyakit di tubuhnya, atau mungkin dengan kerusakan organ seperti kasus anak yang kehilangan penglihatannya.

Yang jelas, pelajaran yang bisa diambil dari kasus dan penyakit Stevens-Johnson Syndrome ini adalah perlu kiranya kita bijaksana dalam mengkonsumsi obat. Jika tak terlalu diperlukan, tak perlu segera minum obat, dan bisa menggunakan alternatif lain yang bersumber dari alam. Ketika obat-obatan memang diperlukan, perlu kiranya kita memperhatikan gejala-gejala perubahan pada tubuh, terutama di kulit. Jika terdapat gejala-gejala seperti disebutkan di atas maka harus segera menghubungi dokter. Orang yang pernah menderita penyakit ini ataupun alergi terhadap obat-obatan tertentu harus selalu mengingatnya dan memberi tahu dokter setiap kali berobat. Kalau tidak biasanya kasus yang kedua terjadi bisa berakibat lebih parah dari yang pertama.

5 Responses to Stevens Johnson Syndrome : Kulit Melepuh Terbakar Akibat Minum Obat

  1. merliza says:

    mulkailah kita hidup sehat… perduli dengan kesehatan kita😦

  2. Dinar says:

    makasih banget atas pembahasannya… karena ayah saya mengalami sindrom ini juga… mudah2 belum terlambat untuk beliau sembuh dari penyakit ini…
    (Sama-sama)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: